TUGAS MEMBUAT KONEKSI
ANTAR MATERI
MODUL 1.4.a.8
Ditulis
Oleh : Elyanuar Ridiantomo
Intansi
: SDN Joglo 10 Pagi
CGP.Angkatan : 7 kelas 18
Diterbitkan
:
Blogspot.Sang Pandu /Selasa,20 Desember 2022
Refleksi
A. Pemikiran Reflektif
Terkait Pengalaman Belajar
Pada saat ini saya
sebagai CGP Angkatan 7 Alhamdulilllah sudah sampai di modul 1.4.a.8., yaitu pada kegiatan “
Koneksi antar materi Budaya Positif “ . Dalam penyelesaian tugas Koneksi antar materi modul 1.4 sebagai
kewajiban sebagai CGP adalah diharapkan untuk memahami keterkaitan konsep budaya
positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3. serta dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih
efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.
Penerapan budaya
positif dalam aktifitas belajar mengajar sehari-hari di sekolah sangat
berkaitan dengan nilai lainnya. Misalnya penerapan budaya positif “mengucapkan
salam, mengucapkan terima kasih jika, budaya mau antri” sangat erat kaitannya
dengan penanaman nilai mandiri dan disiplin bagi murid. Melalui pembiasaan –
pembiasaaan di atas murid dapat
mengembangkan jiwa sosial dan empati, rasa syukur serta membentuk kemandirian
murid meskipun tanpa adanya pengawasan
dari guru bahkan paksaan.
a. untuk berpihak
kepada murid,
a. untuk menghindari hukuman
atau ketidaknyamanan,
Melalui disiplin positif yaitu membangun siswa
memiliki motivasi yang ketiga, yaitu motivasi intrinsik. Guru dapat mengambil
peran mewujudkan kepemimpinan murid, dengan cara murid sanggup memimpin dirinya
sendiri. Pendidik perlu menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri
sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan
universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Nilai-nilai
kebajikan itu sesuai dengan profil pelajar pancasila yaitu:
a. Beriman,
Sebagai
guru /pendidik, kita tentu ingat tujuan
pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa
pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang
"beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab".
Berdasarkan
Undang – undang tentang system Pendidikan nasional di atas, Profil Pelajar Pancasila diharapkan menjadi
pegangan untuk para pendidik di ruang belajar yang lebih kecil. PP tidak hanya
dimiliki oleh murid berprestasi secara akademik atau murid yang menonjol dalam
bakat lainnya, profil pelajar Pancasila ini tetapi wajib dimiliki oleh seluruh murid kita di dalam
kelas.
Justru
yang terpenting guru harus melakukan bahkan memegang prinsip utama jika ingin
mencapai kesuksesan dalam perwujudan budaya postif sesaui ajaran KHD, bahwa menghormati
dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka
dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun
semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani)
bagi tumbuh kembangnya anak. Menuntun mereka menjadi pribadi yang terampil,
berakhlak mulia dan bijaksana sehingga mereka akan mencapai kebahagiaan dan
keselamatan. Dengan demikian Visi Diri atau visi guru penggerak harus sejalan
dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut.
Secara
garis besarnya visi, nilai dan peran guru
penggerak adalah visi harus mampu mencerminkan nilai dan peran dari guru
penggerak untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Sebagai guru penggerak wajib
memiliki nilai, yaitu:
1.
Berlajar berpihak pada murid,
1.
Menjadi Pemimpin Pembelajaran,
Ada hal yang dapat saya uraikan
berupa pengalaman yang dialami yaitu dalam penerapan Konsep penyelesain masalah
menggunakan proses segitiga restitusi.Dalam video praktik Demontrasi
Kontekstual narasi yang saya tuliskan dalam tugas video praktik segitiga
restitusi tersebut, memang sebuah masalah yang benar-benar sering terjadi dan
saya tangani. Cuma selama ini saya sebagai guru tidak tahu apa yang saya
lakukan adalah sebuah proses restitusi.
Saat mempraktikan sebuah kasus 1,
yaitu murid yang terlambat sekolah dan kasus 2 , murid yang tidak memakai dasi
dan topi melakukan segitiga restitusi
jujur saya sebagai guru merasa senang yang saya rasakan, karena dapat
membimbing siswa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika guru yang ada
menggunkan segitga restitusi dalam menyelesaikan masalah dan semua siswa dapat
belajar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, maka semua konsep hidup bahagia
dan belajar dengan bahagia akan tercipta.
Selain itu murid akan belajar
untuk bertanggungjawab terhadap hidupnya. Sikap keterbukaan dan bicara dari
hati – kehati untuk lebih fleksibel,luwes, dan tidak kaku dalam menerapkan saya
akan memposisikan sebagai manajer. Paling tidak memposisikan sebagai pemantau.
Sebelum mempelajari modul ini, secara
tidak langsung sebenarnya saya sudah menerapkannya yaitu pada tahap
menstabilkan emosi dan validasi masalah. Hanya saja pada tahap akhir, saya
cenderung pemberi solusi. Ketika ada masalah yang terjadi saya biasanya
memanggil siswa tersebut secara pribadi untuk saya ajak bicara dan menggali
masalah yang dia alami. Setelah belajar modul ini saya berusaha menerapkan
langkah terakhir yaitu menanyakan keyakinan kelas dan memunculkan motivasi
intrinsik. Hal lain yang perlu
dipelajari adalah perlu adanya kolaborasi dalam menciptakan budaya positif di
sekolah, karena budaya positif ini tidak dapat dilakukan sendirian. Budaya
positif dapat dilakukan oleh warga sekolah yang positif pikirannya, positif
perkataannya, dan positif tindakannya.

Komentar
Posting Komentar